Kamis, 01 Januari 2015

BAHAN AJAR MICRO TEACHING KALA IV PERSALINAN



BAHAN AJAR

ASKEB II PERSALINAN
(Kala IV Persalinan)






Oleh:
HARNITA RASYID




PROGRAM STUDI D-IV BIDAN PENDIDIK
STIKES MEGA REZKY
MAKASSAR


DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ..................................................................  2
TINJAUAN MATA KULIAH .............................................  3
URAIAN MATERI ..........................................................  5
1.         Pengertian Kala IV ..................................................................  5
2.         Macam-macam Fisiologi dan patofisiologi kala IV ......................  5
a.         Fisiologi Kala IV ..............................................................  5
b.         Patologi Kala IV ...............................................................  7
3.         Fisiologi kala IV .....................................................................  8
a.         Evaluasi uterus .................................................................  8
b.         Pemeriksaan serviks, vagina, perineum ................................  9
c.         Perkiraan darah yang hilang ...............................................  10
4.         Penjahitan luka episiotomi .......................................................  11
5.         Pemantauan kala IV ................................................................  15
DAFTAR PUSTAKA ........................................................  20



TINJAUAN MATA KULIAH

A.    Deskripsi Singkat Mata Kuliah
 


Mata kuliah ini memberikan kemampuan kepada mahasiswa untuk memberikan Askeb pada ibu dalam persalinan khususnya pada kala IV dengan pendekatan manajemen kebidanan didasari konsep-konsep, sikap dan keterampilan serta hasil evidence based dengan pokok bahasan konsep dasar persalinan, tindakan-tindakan pada kala IV, macam-macam fisiologis dan patologi pada kala IV, penjahitan luka episiotomi, dan pemantauan kala IV.
B.     Kegunaan/ Manfaat Mata Kuliah
 



Mata Kuliah Asuhan Kebidanan II (Persalinan)  khususnya pada pembelajaran Asuhan pada kala IV merupakan kompetansi utama bagi seorang bidan dan dapat digunakan sebagai bekal untuk menerapkan asuhan kebidanan, khususnya asuhan persalinan pada kala IV dalam aplikasi klinis saat praktik keterampilan, klinik kebidanan maupun pelayanan kebidanan saat telah lulus.

C.    Standar Kompetensi Mata Kuliah
 
           
Standar kompetensi mata kuliah asuhan kebidanan dalam masa persalinan yaitu :
Memberikan asuhan kebidanan pada ibu bersalin kala IV


D.    Susunan Urutan Bahan Ajar
 


1.         Pengertian Kala IV
2.         Macam-macam Fisiologi dan patofisiologi kala IV
a.      Fisiologi Kala IV
b.      Patologi kala IV
3.         Fisiologi kala IV
a.      Evaluasi uterus
b.      Pemeriksaan serviks, vagina, perineum
c.      Perkiraan darah yang hilang
4.         Penjahitan luka episiotomi
5.         Pemantauan kala IV
E.     Petunjuk Bagi Mahasiswa
 


1.         Sebelum anda mempelajari isi materi ini, terlebih dahulu baca baik - baik deskripsi materi yang ada pada awal bahan ajar ini.
2.         Sesudah itu, mualailah pelajari isi materi ini dan rangkumannya dengan cermat.
3.         Diskusikan dengan teman - teman anda permasalahan yang masih belum jelas dan apabila ada kesulitan jangan malu untuk menanyakan kepada pengajar atau pembimbing.
4.         Apabila semua tugas telah selesai didiskusikan, kerjakan semua soal latihan yang telah ada pada lembar tersendiri dan jangan melihat jawaban.
5.         Setelah menjawab pertanyaan itu, Kemudian cocokkan jawaban anda dengan kunci jawaban yang telah tersedia.
URAIAN MATERI
1.      Pengertian Kala IV
Persalinan adalah suatu proses perneluaran hasil konsepsi ( janin dan uri ) yang dapat hidup ke dunia luar dari rahim melalui jalan lahir atau jalan lain.
Kala IV persalinan adalah waktu atau kala di dalam suatu proses persalinan yang dimulai setelah lahirnya plasenta dan berakhir dua jam setelah itu.
Kala IV persalinan adalah kala pada dua jam pertama persalinan. Kala IV persalinan adalah dimulai dari lahirnya plasenta sampai dua jam pertama  post partum.
Kala IV merupakan masa 1-2 jam setelah plesenta lahir. Dalam Klinik, atas pertimbangan-pertimbangan praktis masih diakui adanya Kala IV persalinan meskipun masa setelah plasenta lahir adalah masa dimulainya masa nifas (puerpurium), mengingat pada masa ini sering timbul perdarahan (Yanti, 2010).
Observasi yang harus dilakukan pada Kala IV adalah :
a.          Tingkat kesadaran ibu bersalin
b.         Pemeriksaan TTV : TD, Nadi, Suhu, Respirasi
c.          Kontraksi Uterus
d.         Terjdinya perdarahan, perdarahan dianggap masih normal jika jumlahnya tidak melebihi 400 sampai 500 cc
e.          Isi kandung kemih ( Saifuddin, 2008).

2.      Jenis-jenis Fisiologi dan Patofisiologi kala IV
a.      Fisiologi kala IV
Kala IV adalah kala pengawasan dari 1 – 2 jam setelah bayi dan plasentalahir. Hal – hal yang perlu diperhatikan adalah kontraksi uterus sampai uterus kembali dalam bentuk normal. Hal ini dapat dilakukan dengan rangsangan taktil (masase) untuk merangsang uterus berkontraksi baik dan kuat. Perlu juga dipastikan bahwa plasenta telah lahir lengkap dan tidak ada yang tersisa dalam uterus serta benar-benar dijamin tidak terjadi perdarahan lanjut (Sumarah, 2008).
·         Evaluasi uterus
Setelah kelahiran plasenta, periksa kelengkapan dari plasenta dan selaput ketuban. Jika masih ada sisa plasenta dan selaput ketuban yang tertinggal dalam uterus akan mengganggu kontraksi uterus sehingga menyebabkan perdarahan. Jika dalam waktu 15 menit uterus tidak berkontraksi dengan baik, maka akan terjadi atonia uteri. Oleh karena itu, diperlukan tindakan rangsangan taktil (massase) fundus uteri dan bila perlu dilakukan Kompresi Bimanual.
·         Pemeriksaan serviks, vagina, perineum
Untuk mengetahui apakah ada tidaknya robekan jalan lahir, maka periksa daerah perineum, vagina dan vulva. Setelah bayi lahir, vagina akan mengalami peregangan, oleh kemungkinan edema dan lecet. Introitus vagina juga akan tampak terkulai dan terbuka. Sedangkan vulva bisa berwarna merah, bengkak dan mengalami lecet-lecet.
·         Perkiraan darah yang hilang
Satu cara untuk menilai kehilangan darah adalah dengan cara melihat darah tersebut dan memperkirakan berapa banyak botol berukuran 500 ml yang bisa dipenuhi darah tersebut. Jika darah bisa mengisi 2 botol artinya ibu telah kehilangan 1 lt darah. Memperkirakan kehilangan darah hanyalah salah satu cara untuk menilai kondisi ibu. Upaya yang kebih penting adalah dengn memeriksa ibu secara berkala dan lebih sering selama kala VI dan menilai kehilangan darahnya dengan cara memantau tanda vital, mengevaluasi kondisi terkini, memperkirakan jumlah perdarahan lanjutan dan menilai tonus otot uterus.
b.      Patologi kala IV
·         Perdarahan kala IV (primer dan sekunder)
Yang dimaksud perdarahan pasca persalinan secara tradisional ialah perdarahan yang melebihi 500 cc pada kala III. Perdarahan pasca persalinan sekarang dapat dibagi menajdi :

1.    Perdarahan pasca persalinan dini ialah perdarahan ≥ 500 cc pada 24 jam pertama setelah persalinan.
2.    Perdarahan pasca persalinan lambat ialah perdarahan ≥ 500 cc setelah 24 jam persalinan.

Perdarahan pasca persalinan merupakan penyebab pentingnya kematian ibu ¼ dari kematian ibu yang disebabkan oleh perdarahan pasca persalinan (perdarahan pasca persalinan, placenta pravia, sulusio plasenta, kehamilan ektopik, abortus dan ruptur uteri). Bila perdarahan pasca persalinan tidak menyebabkan kematian, kejadian ini mempengaruhi morbiditas nifas karena anemia akan menurunkan daya tahan tubuh sehingga sangat penting untuk mencegah perdarahan yang banyak.
·         Syok obstetrik
Syok adalah suatu keadaan disebabkan gangguan sirkulasi darah ke dalam jaringan sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi jaringan dan tidak mampu mengeluarkan hasil metabolisme.
Penyebab terjadinya syok dalam kebidanan yang terbanyak adalah perdarahan, kemudian neurologenik, kardiogenik, endotoksik/septic, anafilaktik, dan penyebab syok yang lain seperti emboli, komplikasi anastesi, dan kombinasi.
Gejala klinik syok pada umumnya sama yaitu tekanan darah menurun, nadi cepat dan lemah, pucat, keringat dingin, sianosis jari-jari, sesak nafas, pengelihatan kabur, gelisah, dan akhirnya oliguria/anuria.
Komplikasi akibat penanganan yang tidak adekuat dapat menyebabkan asidosis metabolic akibat metabolisme anaerob yang terjadi karena kekurangan oksigen. Hipoksia/iskemia yang lama pada hipofise dan ginjal dapat menyebabkan nekrosis hipofise dan gagal ginjal akut. Koangulasi intravaskular yang luas disebabkan oleh lepasnnya tromboplastin dari jaringan yang rusak. Kegagalan jantung akibat berkurangnya darah koroner. Dalam fase ini kematian mengancam. Transfusi darah saja tidak adekuat lagi dan jika penyembuhan fase akut terjadi, sisa-sisa penyembuhan akibat nekrosis ginjal dan/atau hipofise akan timbul.
Penanganan syok terdiri atas 3 garis utama, yaitu pengembalian fungsi sirkulasi darah,dan oksigenasi, eradikasi infeksi, serta koreksi cairan dan elektrolit. Akibat kematian ibu karena perdarahan dalam kebidanan dapat mencapai 13,4% di USA.

3.      Fisiologi kala IV
a.      Evaluasi Uterus
Perlu diperhatikan bahwa kontraski uterus mutlak diperlukan untuk mencegah terjadinya perdarahan dan pengembalian uterus ke bentuk normal. Kontraksi uterus yang tidak kuat dan terus menerus dapat menyebabkan terjadinya atonia uteri yang dapat mengganggu keselamatan ibu. Untuk itu evaluasi terhadap uterus pasca persalinan sangat pentinh.
            Untuk membantu uterus berkontraksi dapat dilakukan dengan masase uterus. Kalau dengan ini uterus belum berkontraksi dengan baik, dapat diberikan obat oksitosin dan harus diawasi sekurang-kurangnya selama 1 jam.
b.      Pemeriksaan Serviks, vagina, perineum
Pemeriksaan ini berguna untuk mengetahui terjadinya laserasi (adanya robekan) yang dapat diketahui dari adanya perdarahan pasca persalinan, plasenta yang lahir lengkap, dan adanya kontraksi uterus. Segera setelah kelahiran bayi, serviks, dan vagina harus diperiksa secara menyeluruh untuk mencari ada tidaknya laserasi dan perlu tidaknya dilakukan penjahitan. Serviks, vagina, dan perineum dapat diperiksa lebih mudah sebelum pelepasan plasenta karena tidak ada perdarahan rahim. Pelepasan plasenta biasanya terjadi 5-10 menit pada akhir kala II.
Setelah kelahiran plasenta, perhatian harus segera ditujukan pada perdarahan rahim yang dapat berasal dari tempat implantasi plasenta. Plasenta harus diperiksa untuk memastikan kelengkapannya. Setelah dilakukan pemeriksaan plasenta, periksa bagian perineum apakah terdapat robekan atau tidak. Setelah proses persalinan, vagina akan mengalami peregangan dan lebih besar dari biasanya.
Untuk mengetahui apakah ada tidaknya robekan jalan lahir, maka periksa daerah perineum, vagina dan vulva. Setelah bayi lahir, vagina akan mengalami peregangan, oleh kemungkinan edema dan lecet. Introitus vagina juga akan tampak terkulai dan terbuka. Sedangkan vulva bisa berwarna merah, bengkak dan mengalami lecet-lecet.
Segera setelah kelahiran bayi, serviks dan vagina harus diperiksa secara menyeluruh untuk mencari ada tidaknya laserasi dan dilakukan perbaikan lewat pembedahan kalau diperlukan. Servik, vagina dan perineum dapat diperiksa lebih mudah sebelum pelepasan plasenta karena tidak ada perdarahan rahim yang mengaburkan pandangan ketika itu.
Kontraksi uterus yang meengurangi perdarahan ini dapat dilakukan dengan pijat uterus dan penggunaan oksitosin. Kalau pasien menghadapi perdarahan nifas (misalnya karena anemia, pemanjangan masa augmentasi oksitosin pada persalinan, kehamilan kembar, atau hidramnion) dapat diperlukan pembuangan plasenta secara manual.
Untuk mengetahui ada tidaknya trauma atau hemoroid yang keluar, maka periksa anus dengan rectal toucher. Laserasi dapat dikategorikan dalam:
1.    Derajat pertama: laserasi mengenai mukosa dan kulit perineum, tidak perlu dijahit.
2.    Derajat kedua: laserasi mengenai mukosa vagina, kulit dan jaringan perineum (perlu dijahit).
3.    Derajat ketiga: laserasi mengenai mukosa vagina, kulit, jaringan perineum dan spinkter ani.
4.    Derajat empat: laserasi mengenai mukosa vagina, kulit, jaringan perineum dan spinkter ani yang meluas hingga ke rektum. Perlu dilakukan rujukan segera
 
c.      Perkiraan darah yang hilang
Perkiraan darah yang hilang sangat penting artinya untuk keselamatan ibu, namun untuk menentukan banyaknya darah yang hilang sangatlah sulit karena darah sering sekali bercampur dengan cairan ketuban atau urin dan mungkin terserap kain. Mengumpulkan darah menggunakan wadah atau pispot yang diletakkan di bawah bokong ibu bukanlah cara yang efektif karena tidak sesuai dengan asuhan sayang ibu. Cara yang baik untuk memperkirakan kehilangan darah adalah dengan menyiapkan wadah 500 ml yang digunakan untuk menampung darah. Cara tak langsung untuk mengukur jumlah kehilangan darah adalah melalui penampakkan gejala dan tekanan darah. Kalau menyebabkan lemas, pusing, kesadaran menurun, tekanan darah sistolik turun lebih dari 100 mmHg dari kondisi sebelumnya, dan jika ibu mengalami syok hipovolemik maka ibu telah kehilangan darah 50% dari total darah ibu (2000-2500 ml). perdarahan pasca persalinan sangat penting untuk diperhatikan karena sangat berhubungan erat dengan kondisi kesehatan ibu.
             
4.      Penjahitan Luka Episiotomi
a.      Indikasi Episiotomi
1.      Gawat janin
2.      Persalinan per vaginam dengan penyulit (sungsang, tindakan vakum ataupun forsep).
3.      Jaringan parut (perineum dan vagina) yang menghalangi kemajuan persalinan.
b.      Tujuan Penjahitan
1.      Untuk menyatukan kembali jaringan yang luka.
2.      Mencegah kehilangan darah.
c.      Keuntungan Teknik Jelujur
Selain teknik jahit satu-satu, dalam penjahitan digunakan teknik penjahitan dengan model jelujur. Adapun keuntungannya adalah:
1.       Mudah dipelajari.
2.       Tidak nyeri.
3.       Sedikit jahitan.
d.     Hal Yang Perlu Diperhatikan
Dalam melakukan penjahitan perlu diperhatikan tentang:
1.      Laserasi derajat satu yang tidak mengalami perdarahan, tidak perlu dilakukan penjahitan.
2.      Menggunakan sedikit jahitan.
3.      Menggunakan selalu teknik aseptik.
4.      Menggunakan anestesi lokal, untuk memberikan kenyamanan ibu.
e.      Penggunaan Anestesi Lokal
1.       Ibu lebih merasa nyaman (sayang ibu).
2.       Bidan lebih leluasa dalam penjahitan.
3.       Lebih cepat dalam menjahit perlukaannya (mengurangi kehilangan darah).
4.       Trauma pada jaringan lebih sedikit (mengurangi infeksi).
5.       Cairan yang digunakan: Lidocain 1 %.
f.       Tidak Dianjurkan Penggunaan
Lidocain 2 % (konsentrasinya terlalu tinggi dan menimbulkan nekrosis jaringan).
Lidocain dengan epinephrine (memperlambat penyerapan lidocain dan memperpanjang efek kerjanya).
g.      Nasehat Untuk Ibu
Setelah dilakukan penjahitan, bidan hendaklah memberikan nasehat kepada ibu. Hal ini berguna agar ibu selalu menjaga dan merawat luka jahitannya. Adapun nasehat yang diberikan diantaranya:
1.       Menjaga perineum ibu selalu dalam keadaan kering dan bersih.
2.       Menghindari penggunaan obat-obat tradisional pada lukanya.
3.       Mencuci perineum dengan air sabun dan air bersih sesering mungkin.
4.       Menyarankan ibu mengkonsumsi makanan dengan gizi yang tinggi.
5.       Menganjurkan banyak minum.
6.       Kunjungan ulang dilakukan 1 minggu setelah melahirkan untuk memeriksa luka jahitan.
h.     Anestesi Lokal dan Prinsip Penjahitan
Anestesi lokal standar yang digunakan adalah lidokain 1% tanpa epinefrin, jika tidak tersedia gunakan 2% yang dilarutkan menggunakan air steril dengan perbandingan 1:1. Ukuran dan panjang jarum yang digunakan bergantung pada lasreasinya. Sebuah jarum ukuran 22 dengan panjang 3-4 cm cukup untuk menginjeksikan anestesi. Hati-hati pada saat memberikan anestesi jangan sampai masuk ke dalam pembuluh darah karena dapat menyebabkan ibu menjadi kejang bahkan dapat menyebabkan kematian.
Teknik injeksi anestesi lokal adalah sebagai berikut :
1.      Jelaskan pada ibu apa yang akan dilakukan dan bantu ibu agar merasa nyaman.
2.      Hisap 10 ml larutan lidokain 1%dalam alat suntik sekali pakai 10ml.
3.      Tempelkan jarum ukuran 22 sepanjang 4 cm ke tabung suntik tersebut.
4.      Suntikkan jarum ke ujung laserasi lalu tarik jarum sepanjang tepi luka
5.      Aspirasi untuk memastikan jarum tidak masuk ke pembuluh darah.
6.      Suntikkan anestesi sejajar dengan permukaan luka pada saat jarum suntik ditarik perlahan-lahan.
7.      Tarik jarum hingga sampai ke bawah tempat dimana jarum tersebut disuntikkan.
8.      Arahkan jarum ke daerah diatas tengah luka dan ulangi langkah ke-4.
9.      Tusukkan jarum untuk yang ketiga kalinya dan sekali lagi sehingga garis di satu sisi luka mendaparkan anestesi lokal.
10.  Ulangi pada sisi lain. Setiap sisi luka akan membutuhkan kurang lebih 5 ml lidokain 1% untuk mendapatkan anestesi yang cukup
11.  Tarik jarum hingga sampai ke bawah tempat dimana jarum tersebut disuntikkan.

i.       Penjahitan Luka Episiotomi
Adapun langkah-langkah melakukan penjahitan luka episiotomi adalah sebagai berikut :
1.      Cuci tangan dan gunakan sarung tangan steril.
2.      Pastikan kelengkapan peralatan dan bahan yang akan digunakan.
3.      Setelah memberikan anestesi lokal dan memastikan daerah tersebut sudah di anestesi, telusuri luka untuk menentukan batas-batasnya.
4.      Buatlah jahitan pertama kurang lebih 1 cm di atas ujung laserasi di bagian dalam vagina. Setelah itu ikat dan potong pendek benang.
5.      Tutup mukosa vagina dengan jahitan jelujur, jahit ke bawah cincin hymen.
6.      Tepat sebelum cincin hymen, masukkan jarum ke dalam mukosa vagina lalu ke bawah cincin hymen sampai jarum ada di bawah laserasi. Periksa bagian antara ujung jarum di perineum dan bagian atas laserasi. Perhatikan seberapa dekat jarum ke puncak luka.
7.      Teruskan ke arah bawah tapi tetap pada luka, menggunakan jahitan jelujur hingga mencapai bagian bawah laserasi. Pastikan jarak setiap jahitan sama dan otot telah terjahit.
8.      Setelah mencapai ujung laserasi, arahkan jarum ke atas dan teruskan penjahitannya menggunakan jelujur untuk menutup lapisan sub kutikuler. Jahitan ini akan menjadi jahitan lapis kedua.
9.      Tusukkan jarum dari robekan perineum ke dalam vagina. Jarum harus keluar dari belakang cincin hymen.
10.  Ikat benang dengan membuat simpul di dalam vagina. Potong ujung benang dan sisakan 1,5 cm. jika benang dipotong terlalu pendek, simpul akan longgar, dan laserasi akan membuka.
11.  Ulangi pemeriksaan vagina dengan lembut.
12.  Dengan lembut masukkan jari paling kecil ke anus. Raba apakah ada jahitan pada rektum. Jika ada jahitan, ulangi pemeriksaan rektum 6 minggu pasca persalinan. Jika penyembuhan belum sempurna, rujuk.
13.  Cuci daerah genitalia dengan lembut dengan menggunakan sabun dan ait DTT kemudian keringkan.
14.  Nasehati ibu agar menjaga perineumnya, hindari obat-obat tradisional, cuci 3-4 kali sehari, kontrol 1 minggu kemudian atau jika ada keluhan seperti demam, bau busuk, segera datangi bidan.

5.      Pemantauan Kala IV
Pemantauan kala IV persalinan sangat penting dilakukan oleh setiap petugas kesehatan yang telah menolong kelahiran bayi, sebagai pemantauan dasar minimal pasca persalinan. Hal ini dikarenakan:
1)    Dua jam persalinan merupakan waktu yang kritis bagi ibu dan bayi karena keduanya baru saja mengalami perubahan fisik yang luar biasa.
2)   Sangat penting untuk melakukan pemantauan munculnya perdarahan post partum. Petugas kesehatan hendaknya berada di samping ibu dan bayinya selama dua jam pasca persalinan. Sebagian besar kesakitan dan kematian ibu disebabkan oleh perdarahan pasca persalinan yang terjadi selama dua jam pertama setelah kelahiran bayi. Jika pemantauan yang dilakukan masih dalam batas normal selama dua jam persalinan, mungkin ibu tidak akan mengalami perdarahan pasca persalinan.
3)    Membantu memfasilitasi atau memenuhi kebutuhan ibu pasca persalinan.
Penilaian-penilaian yang dilakukan pada kala IV
Selama kala IV, petugas kesehatan harus memantau ibu setiap 15 menit pertama setelah kelahiran plasenta dan setiap 30 menit pada jam kedua setelah persalinan. Kecuali untuk suhu ibu dapat dipantau satu kali setiap 1 jam. Namun jika kondisi ibu tidak stabil, maka ibu harus dipantau lebih sering.
Penilaian-penilaian yang dilakukan pada kala IV diantaranya:
1)    Tekanan Darah (TD)
Pemeriksaan ini dilakukan karena tekanan darah merupakan tanda vital yang dapat langsung mendeteksi keadaan normal ibu. Misalnya pada ibu dengan perdarahan umumnya tekanan darah turun.
2)    Nadi
Pemeriksaan ini dilakukan karena nadi juga merupakan tanda vital yang dapat langsung mendeteksi keadaan normal ibu (nadi normal 60-100 kali/ menit). Misalnya pada ibu yang mengalami pre syok.
3)    Suhu
Suhu merupakan salah satu salah satu tanda vital untuk mendeteksi keadaan normal ibu misalnya pada ibu dehidrasi berat umumnya tubuh ibu panas. Suhu tubuh ibu normal 36,5 0C – 37,5 0C.
4)    Tinggi Fundus Uteri
Pemeriksaan ini penting karena apabila tinggi fundus meninggi (di atas umbilicus) dapat menjadi perdarahan karena kontraksi terhalang.
5)    Kontraksi uterus
Hal itu dilakukan dengan merasakan apakah fundus berkontraksi kuat dan berada di bawah umbilicus dengan melakukan massase fundus. Kontraksi uterus yang tidak kuat dapat menimbulkan perdarahan.
6)    Kandung Kemih
Penilaian ini penting untuk memastikan kandung kemih yang penuh. Karena kandung kemih yang penuh dapat mendorong uterus ke atas dan menghalangi kontraksi sehingga menimbukan perdarahan.
7)    Perdarahan
Hal ini sangat penting untuk menilai seberapa banyak darah yang keluar. Jika lebih dari ± 500 cc maka terjadi perdarahan dan hal ini sangat berbahaya karena menyebabkan kematian.

Di bawah merupakan cara untuk mempermudah dalam mengingat hal-hal yang perlu dinilai dalam pemantauan kala IV:
K         : Kontraksi
K         : Kandung kemih
Su        : Suhu
Per      : Perdarahan
Te        : Tekanan darah
Na       : Nadi
R         : Uteri yaitu tinggi fundus uteri
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat pemantauan kala IV persalinan adalah:
1)  Melakukan asuhan / tindakan yang baik dan bermanfaat
a.  Pemeriksaan Fundus dan masase
Periksa fundus setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 20-30 menit selama jam kedua. Jika kontraksi tidak kuat, masase uterus sampai menjadi keras. Apabila uterus berkontraksi, otot uterus akan menjepit pembuluh darah untuk menghentikan perdarahan. Hal ini dapat mengurangi kehilangan darah dan mencegah perdarahan postpartum
b.  Memberikan Nutrisi dan Hidrasi
Anjurkan ibu untuk minum demi mencegah dehidrasi. Tawarkan ibu makanan dan minuman untuk memulihkan tubuhnya.
c.   Bersihkan Ibu
Bersihkan perineum ibu dan kenakan pakaian ibu yang bersih dan kering.
d.   Menganjurkan Ibu Istirahat
Biarkan ibu beristirahat karena dia telah bekerja keras melahirkan bayinya. Bantu ibu pada posisinya yang nyaman.
e.  Meningkatkan hubungan ibu dan bayi
Biarkan bayi berada pada ibu untuk meningkatkan hubungan ibu dan bayi dan segerakan ibu menyusui bayinya.
f.    Memulai Menyusui
Bayi sangat siap segera setelah kelahiran. Hal ini sangat tepat untuk memulai memberikan ASI. Menyusui juga membantu uterus berkontraksi. 
g.   Menolong Ibu ke Kamar mandi
Jika ibu ke kamar madi, pastikan ibu dibantu dan selamat karena ibu masih  dalam keadaan lemah atau pusing setelah persalinan. Pastikan ibu sudah buang air kecil dalam 2 jam post partum.
h.               Mengajari ibu dan anggota keluarga
Ajari ibu atau anggota keluarga tentang bagaimana memeriksa fundus dan menimbulkan kontraksi serta tanda-tanda bahaya bagi ibu dan bayi.
2)   Melakukan asuhan tidak bermanfaat
a.   Memasang Tampon Vagina
Tidak akan menghentikan perdarahan dan dapat menyebabkan infeksi.
 b. Memasang   Gurita dan Sejenisnya
Adanya gurita apalagi selama 2 jam PP akan menyulitkan kontraksi dan  pemantauan petugas.
c.   Memisahkan ibu dan bayi
Bayi benar-benar siaga selama 2 jam pertama kelahiran, sehingga hal ini merupakan waktu yang baik untuk hubungan ibu dan bayi
d.   Menduduki sesuatu yang panas
Duduk diatas bara yang panas dapat menyebabkan vaso dilatasi, menurunkan tekanan darah ibu dan menambah perdarahan. Juga dapat menyebabkan dehidrasi.


DAFTAR PUSTAKA

1.      Varney’s Midwifery, 1997
2.      Buku Acuan Nasional, Saefudin Abdul Bari, 2001
3.      Buku III Askeb pada ibu intrapartum, Pusdiknakes, WHO, JHPIEGO, 2001
4.      Panduan Praktis Maternal dan Noenatal, WHO, 2001
5.      Ilmu Kebidanan dan Kandungan, Sarwono Prawiroharjo, 1997
6.      Bobak, Jansen. Essenstial of Maternity Nursing, mosby Company 1984.
7.      Saifudin Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, 2006.
8.      Manuaba, Ida Bagus Gde. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar